Mengukur Kepuasan Kerja

Table of Contents

Mengukur Kepuasan Kerja

Mengukur Kepuasan Kerja

Karena sumber daya manusia merupakan aset utama dalam perusahaan, maka agar kinerja perusahaan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, perusahaan harus dapat memastikan bahwa seluruh pegawainya puas dengan apa yang diberikan perusahaan sebagai balas jasa kepada mereka. Untuk itu perusahaan perlu mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan kerja pegawainya.  Terdapat dua pendekatan yang menurut Robbins paling banyak dipergunakan dalam mengukur kepuasan kerja:

  1. Angka-nilai global tunggal (single global rating)

Metode ini dilakukan dengan cara meminta pegawai untuk mengisi/menjawab satu pertanyaan, seperti: seberapa puaskah anda  dengan pekerjaan anda? Kemudian responden (pegawai) dapat menjawab dengan pilihan-pilihan yang tersedia, misalnya responden dapat memilih angka 1 sampai 5, yang mewakili “sangat puas” sampai “sangat tidak puas”.

  1. Skor Penjumlahan (summation score)

Metode ini merupakan metode yang lebih maju. Untuk menggunakan metode ini maka perlu diketahui terlebih dahulu unsur-unsur utama dalam pekerjaan. Kemudian menanyakan kepada pegawai tentang bagaimana pendapatnya atau perasaannya terhadap unsur-unsur tersebut. Aspek-aspek yang biasanya ditanyakan dapat meliputi; sifat dasar pekerjaan, tingkat upah, tunjangan, promosi jabatan, penyeliaan, hubungan dengan rekan kerja, hubungan dengan atasan dan lain-lain.

Kedua metode diatas menurut hasil riset tidak ada yang lebih unggul atau lebih baik, dengan kata lain kedua metode itu sama-sama valid, walaupun jika kita perhatikan sejenak, metode Skor Penjumlahan nampak lebih akurat dan lebih dapat diandalkan, karena banyaknya aspek pekerjaan yang dilibatkan. Tapi riset tidak membuktikan hal ini. Maka penentuan metode mana yang sebaiknya anda gunakan bergantung pada pertimbangan anda sendiri.

Menurut Stephen P. Robbins Terdapat sejumlah indikasi atau respon yang diungkapkan karyawan ketika mereka tidak puas, yaitu:

  1. Exit, tindakan yang mengarah pada keluarnya karyawan dari perusahaan. Tindakan ini dapat berupa pencarian posisi atau jabatan baru dalam perusahaan atau bahkan minta berhenti
  2. Suara (Voice), mencoba untuk memperbaiki situasi yang dialami karyawan dengan cara pemberian saran perbaikan, pengaduan ke serikat buruh atau diskusi dengan atasan.
  3. Kesetiaan (Loyalty), tidak melakukan tindakan apapun terhadap kondisi yang ada, namun karyawan percaya bahwa kondisi akan membaik dengan sendirinya.
  4. Pengabaian (Neglect), mengabaikan kondisi yang ada dan membiarkannya semakin memburuk.

Kepuasan dan produktivitas berbanding lurus. perusahaan dengan karyawan yang puas akan berjalan lebih efektif dari pada perusahan dengan karyawan yang kurang puas. Namun aktivitas dalam perusahaan melibatkan proses yang cukup rumit, sehingga keefektifan perusahaan tidak dapat hanya dinilai dari kepuasan kerja karyawan.

Baca Juga :