SEJARAH PENCIPTAAN JAGAT RAYA

SEJARAH PENCIPTAAN JAGAT RAYA

SEJARAH PENCIPTAAN JAGAT RAYA

Termasuk upaya mempelajari makhluk Allah dalam rangka mengenali Rububiyah-Nya, adalah mempelajari sejarah penciptaan langit dan bumi serta isinya. Dan dalam pembicaraan tentang sejarah penciptaan alam semesta ini, Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menceritakannya untuk kita semakin yakin dengan maha sempurnanya Rububiyah Allah, sebagai berikut:
1). Allah Ta`ala azali, ada sebelum adanya segala makhluk. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dalam riwayat berikut ini:

Dari Abi Razin Al-Uqaili, dia menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum terciptanya langit dan bumi?” Beliau menjawab: “Dia berada di Ama’, yaitu posisi yang tidak ada di atasnya hawa dan tidak pula di bawahnya hawa.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya hadits ke 3109 dan beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan. Juga hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah jilid. 1 hal. 419 hadits ke 625.
Yazid bin Harun (beliau adalah salah seorang Imam Ahli Hadits di kalangan Ta’biin) menyatakan: “Al-Ama’ itu maknanya ialah bahwa Dia Allah tidak bersama apapun.”

2). Allah Ta`ala menciptakan Arsy dan padanya terdapat Kursi-Nya sebagai makhluk-makhluk-Nya yang pertama kali sebelum menciptakan makhluk yang lainnya. Hal ini diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam menjawab pertanyaan Abi Razin Al-Uqaili tentang di mana Allah ketika sebelum menciptakan segenap makhluk-Nya. Beliau menjawab:

“Dia Allah berada di Ama’ tidak ada hawa di bawah-Nya dan tidak ada pula hawa di atas-Nya, kemudian Dia menciptakan Arsy-Nya dan diletakkan di atas air.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya jld. 4 hal. 11)

Arsy Allah itu adalah makhluk yang terbesar, dan Ibnu Abbas radliyallahu `anhuma menerangkan bahwa Arsy itu adalah makhluk Allah yang tertinggi tempatnya (Riwayat. Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya jilid 6 hal. 2005 riwayat ke 10701). Ibnu Abi Hatim meriwayatkan juga dalam tafsirnya dengan sanadnya, keterangan Imam dari kalangan Tabi`in bernama Sa`ad Abu Mujahid At-Tha`i bahwa Arsy Allah itu diciptakan dari mutiara berwarna merah. Wahab bin Munabbah (juga Imam dari kalangan Tabi`in) menerangkan bawa Allah menciptakan Arsy-Nya dari cahaya-Nya.
Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan kepadanya: “Wahai Abu Dzar, langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi Allah adalah seperti gelang tangan yang diletakkan di padang pasir. Dan Arsy Allah dibandingkan dengan Kursi-Nya seperti padang pasir dibandingkan dengan gelang tangan itu.” Demikian disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari jilid 13 hal. 411. Sa`id bin Mansur dalam Sunannya jilid 3 hal. 952 riwayat ke 425 meriwayatkan hadits ini dari Mujahid dalam bentuk omongan Mujahid dan bukan sabda Rasullullah shallallahu `alaihi wa sallam. Demikian pula Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah hal.55 riwayat ke 268 meriwayatkan omongan Mujahid ini. Ibnu Hajar Al-Asqalani menshahihkan segenap riwayat tersebut.

3). Allah Ta`ala menciptakan Al-Qalam untuk menuliskan taqdir-Nya atas segala kejadian di jagat raya ini sampai hari kiamat. Hal ini telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dalam sabda beliau:

“Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam. Maka Allah menyatakan kepadanya: ((Tulislah)). Maka berkatalah Al-Qalam itu: ((Wahai Tuhanku, apakah yang harus aku tulis?)) Maka berkatalah Allah kepadanya: ((Tulislah segenap taqdir segala kejadian sampai datangnya hari kiamat)).” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 4700 dari Ubadah bin As-Shamit).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan: “Para Ulama’ Muslimin dari kalangan Shahabat Nabi, Tabi`in dan Ulama’ sesudah generasi mereka, telah memperbincangkan tentang apakah makhluk Allah yang pertama itu Arsy ataukah Al-Qalam. Al-Hafidh Abul Ala’ Al-Hamdani telah menerangkan bahwa para Ulama’ berselisih pendapat dalam dua pendapat. Yaitu, pendapat yang mengatakan bahwa makhluk pertama itu adalah Arsy. Pendapat kedua menyatakan bahwa makhluk pertama itu adalah Al-Qalam. Mereka menguatkan pendapat pertama (yaitu pendapat yang mengatakan bahwa Arsy adalah makhluk pertama), karena Al-Qur’an dan As-Sunnah menerangkan bahwasanya Arsy telah ada di atas air ketika Allah Ta`ala menentukan taqdir-Nya atas segenap makhluk-Nya dengan Al-Qalam yang Ia perintah untuk menuliskannya di lembaran penulisan taqdir-Nya. Maka dengan demikian, Arsy-Nya telah diciptakan lebih dulu sebelum Al-Qalam. Para Ulama’ itu menerangkan tentang hadits yang mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah Al-Qalam, maknanya ialah bahwa Al-Qalam itu adalah makhluk yang diciptakan terlebih dahulu sebelum penciptaan langit dan bumi dari alam raya ini. Dan sungguh Allah Ta`ala telah memberitakan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi ini dalam tempo enam hari.” (Daqa’iqut Tafsir, Ibnu Taimiyah, juz 3 / 4, hal. 228).

Adapun keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menegaskan bahwa Arsy adalah makhluk Allah yang pertama ialah firman Allah dalam surat Hud ayat ke 7 sebagaimana telah tercantum di atas yang dipahami oleh para Imam dari kalangan Tabi`in bahwa Arsy yang berada di atas air itu diciptakan oleh Allah, sebelum Dia menciptakan makhluk apa pun. Para Imam Tabi`in yang memahami demikian ialah Mujahid bin Jabir Al-Makki, Wahab bin Munabbah, Dhamrah bin Habib bin Shuhaib Az-Zubaidi, Qatadah bin Di`amah As-Sadusi dan lain-lainnya. Adapun dalil dari As-Sunnah bagi para Ulama’ yang meyakini bahwa Arsy itu adalah makhluk yang pertama kali diciptakan, ialah antara lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya dari Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Allah telah ada sebelum ada apapun yang selain-Nya. Dan (setelah itu) terjadilah Arsy-Nya yang diletakkan di atas air. Dan (setelah itu) Allah menuliskan (melalui Al-Qalam) dalam kitab taqdir-Nya segala sesuatu yang akan terjadi, dan (setelah itu) Allah menciptakan segenap langit dan bumi.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Bad’ul Khalqi hadits ke 3191. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya jilid 4 hal. 431. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, Kitabul Qadar hadits ke 6690, dari Abdullah bin Amr bin Al-`Ash dengan lafadh yang agak berbeda).

Adapun para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Razin Al-Uqaili dan lain-lainnya. Demikian Ibnu Katsir menerangkan dalam Al-Bidayah wan Nihayahnya juz 1 hal. 7.

4). Allah Ta`ala setelah menciptakan air, kemudian Arsy, dan meletakkan Arsy-Nya di atas air. Kemudian menciptakan Al-Qalam yang diperintah oleh-Nya untuk menuliskan di Al-Lauhil Mahfudh (yakni kitab lembaran taqdir tentang segala kejadian yang telah ditaqdirkan-Nya sampai hari kiamat). Kemudian setelah itu Allah menciptakan zaman atau peredaran waktu. Hal ini diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi sallam dalam sabdanya berikut ini:

“Zaman telah beredar seperti keadaannya, di hari diciptakannya langit dan bumi, (peredaran zaman itu ialah) setahun dibagi dalam dua belas bulan, daripadanya ada empat bulan-bulan haram…………….” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul Maghazi, Bab Hajjatil Wada’, hadits ke 4406, dari Abi Bakrah).

Sumber : https://abovethefraymag.com/